On The Way (Berbagi Kebahagiaan) 2 (1-36)

On The Way adalah perjalanan hidup saya dalam berbagi kebahagiaan dengan sesama manusia, tanpa harus membedakan ras dan suku juga agama. Dari sekian banyaknya ceritanya inilah yang bisa saya bagikan kepada kalian semua.

Pada saat itu saya masih ingat waktu saya awal mula bertemu dengan dunia kaum lesbian, awal di mana saya mulai belajar untuk lebih memanusiakan manusia, untuk lebih mau terjun ke kalangan dimana hampir tak terjamah oleh lembaga sosial.

Dari merekalah kaum lebian saya mulai di kenalkan dengan Komunitas Rumah Kiri, komunitas di mana di sana banyak relawan yang menangani atau melayani Kaum marginal dan papah juga cucu atau cicit manatan PKI. Kalau memang dalam urusan memanusiakan manusia, prinsip Rumah Kiri banyak atau sering berpondasi pada Komunis (Marxisme), di mana tidak ada si kaya dan miskin, semua manusia adalah saudara, Buka jubah agamamu karena semua manusia sama di mata Tuhan, jangan melayani karena dia sama agama atau suku atau ras dengan kamu, jangan mengasihi karena dia satu suku atau ras juga agama dengan kamu. Tapi mulailah untuk tak membedakan itu semua, dalam kotak-kotak doktrin.

Melayani kaum Papah atau Marginal berbeda dengan pelayanan sosial di lapisan masyarakat lainnya, seperti anak-anak broken home atau junkie (pecandu narkoba) di sinilah kaimi di ajarkan dan mengajarkan bagaimana cara mengentaskan kemiskinan dan kebodohan di Masyarakat. Visi Rumah Kiri adalah mengentaskan kemiskinan di mana seseorang atai keluarga itu tidak dapat perhatian dari Pemerintah, keluarga atau seseorang itu adalah Mantan cucu atau cicit PKI, kaum marginal, kalangan papah, lesbian ataupun siapapun yang termarginalkan. Misi Rumah Kiri adalah menjangkau mereka itu yang ada di dalam Visi kami, sampai ke pelosok Indonesia, tanpa harus membedakan agama, ras dan suku, yang terpenting adalah bagaimana mereka bisa membaca dan menulis, setelah itu sekolah dan terjun pula ke masyarakat untuk pelayanan sosial, tanpa harus di targetkan kapan dan di mana?

Singkat cerita untuk sekuel ke dua ini, saat saya pertama kali pelayanan bersama rekan-rekan saya di Rumah Kiri, inilah pertama kalinya saya mengajar membaca dan menulis anak_anak pemulung di daerah Kulon Progo (sekitar Yogyakarta) sebuah daerah yang saat itu masih amasuk IDT, belum banyak campur tangan dari pemerintah daerah apalagi pusat. dengan nuansa pedesaan di sana, yang bisa saya lakukan adalah pebdekatan ke pada anak-anak pemulung itu dengan cara budaya setempat di sana yang sebelumnya saya pelajari, mulai dari kebiasaan mereka, dan sudut pandang mereka dalam kehidupan.

Contoh sederhananya adalah saat saya berada di sana walaupun saat itu hanya sekitar 5 jam saja, hal termuadah yang saya lakukan saat saya dan anak-anak pemulung itu kumpul bersama, sebelum saya mulai mengajar membaca dan menulis kepada mereka, saya luangkan waktu sedikit setedaknya untuk mengenal mereka, satu persatu, termasuk bagaimana keseharian mereka, pekerjaan apa yang mereka lakukan sehari-hari, karena mereka tidak bersekolah karena tidak ada biaya.

Disitulah saya juga membagikan pengalaman hidup saya selama tinggal di perkotaan di Surabaya, karena mereka pasti belum mengerti kehidupan di kota, bagaimana juga kehidupan pemulung-pemulung di Surabaya yang lebih di katakan mampu dari pada di Kulon Progo. kalau Di Surabaya setidaknya pemulung masih punya penghasilan per hari 15 ribu (saat itu) kalau di Kulon Progo penghasilan pemulung masih di katakan minim sekali, bisa dapat penghasilan 5 ribu per hari saja, itu semua sudah untung, dan bisa di sebut jarang ada atau jarang terjadi. memang kalau di bandingkan dengan harga-harga di Surabaya, di Kulon Progo masih lebih murah, tetapi dengan penghasilan minim seperti itu, mereka pasti tidak mendapatkan kesehatan yang terbaik untuk tubuh mereka, seperti makan hanya sehari dua kali atau sekali, itupun dengan lauk yang apa adanya, seperti ikan asin, atau sambal saja, untuk sayurnya kebanyakan dari keluarga anak-anak pemulung itu minta di perkebunan atau sawah milik tetangga atau orang di sekitar tempat tinggal mereka.

Tidak mudah mengenalkan huruf dan angka pada mereka, karena mereka baru pertema kalinya saat itu mempelajari atau mengenal angka dan huruf. Dan waktu yang terbatas pula juga sudut pandang mereka yang membuat saya saat itu tidak menyerah, melihat senyum mereka ketita menyapa saya dan mendengarkan cerita pengalaman hidup saya juga termasuk cerita saya tentang kehidupan pemulung di Surabaya, banyak membuat perubahan dalam pola pikir dari mereka, setidaknya itu semua banyak membuat mereka bisa cepat tanggap dalam mempelajari apa yang saya ajarkan ke mereka tentang pengenalan huruf dan angka. Jarang sekali dari mereka yang saat itu saya ajari terkesan putus asa atau setidaknya kurang semangat untuk belajar. Pengalaman pertama kali dalam sejarah hidup saya pelayanan di kaum Marginal dan papah, saya peroleh dari Rumah Kiri.

Begitupun ketika saya mulai pulang kembali ke Surabaya. Ada kejadian di saat itu yang tidak saya lupakan dengan mereka, mereka mengantarkan saya dan rekan-rekan saya di Rumah Kiri menuju Yogyakarta, karena saya masih pertama melayani mereka maka saat itu saya masih di bimbing oleh relawan-relawan lainnya dari Rumah Kiri. Waktu itu saya menyempatkan diri untuk ikuti kata hati saya untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka (anak-anak pemulung itu) selain membaca dan menulis, saya juga menyempatkan diri dengan mereka jalan-jalan di sekitar Yogyakarta dan makan juga minum bersama mereka, sambil sedikit banyak bercanda bersama mereka, sesekali bagi saya untuk menyenangkan mereka di tengah kesulitan perekonomian yang mereka alami, juga keterbatasan keadaan yang ada di hidup mereka. Setelah itu saya ajak mereka keliling sejenak di sekitar Malioboro, karena bagi mereka pulalah ini pertama kalinya mereka bisa keliling-keliling di kota besar dan menikmati hidup. Bagi saya di saat itu adalah pengalaman yang berharga di hidup saya, walaupun saya juga hanya mampu membagikan kebahagiaan yang mungkin bagi kaum atas (kaya raya) itu hal yang mudah, karena mereka punya harta yang melimpah, tapi bagi saya dengan waktu yang terbatas yang saya miliki, bermodalkan ketulusan dan banyaknya ruang gerak saat itu dari saya untuk mereka, inilah yang bisa saya perbuat bagi mereka, tanpa harus ada rasa juga pikiran yang negatif pada semua penduduk di sana, meskipun ada juga yang mencaci maki kita dari Komunitas Rumah Kiri saat pelayanan mengajar membaca juga menulis di Kulon Progo saat itu, tapi di situlah saya mulai terbiasa di sebut Kafir, karena ada divisi pelayanan dari Rumah Kiri, yang pelayanan ke kalaangan mantan PKI seperti anak, juga cucu dan cicit manatan PKI yang masih ada di Indonesia, karena mereka tidak bisa pergi ke luar negeri, dan di Indonesia mereka tidak di manusiakan.

 

Bersambung.

Namaste. 🙂

(Anggo)

Iklan

On The Way. (1-36)

On The Way adalah cerita pengalaman hidupku dalam berbagi kebahagiaan, dengan mereka yang membutuhkan banyak senyum dan tawa untuk “menghapus” tiap beban hidup mereka.

 

Berbagi kebahagiaan sebenarnya bisa di lakukan siapapun juga, karena tiap manusia mempunyai kebahagiaan itu, kebahagiaan itu tercipta dengan sendirinya, bukan harus menunggu datang atau ada, tapi kebahagiaan itu ada dengan sendirinya di saat manusia itu mengerti kenapa manusia itu di ciptakan berbeda pemikiran atau pola pikir, berbeda rupa, jenis kelamin dan keluarga, ras, suku juga Agama.

Pengalaman saya dalam berbagi kebahagiaan sebenarnya bermula sejak dari usia saya yang masih kecil, di saat saya belum banyak mengerti tentang hidup, untuk apa sebenarnya saya hidup,dengan segala macam yang ada dan terjadi di kehidupan saya saat itu. Dalam bahasa kaum lesbian. On The Way adalah berbagi kebahagiaan, istilah itu berasal dari ketika mereka nongkrong bersama, mereka menggunakan cara untuk mengungkapkan rasa sayang mereka adalah on the way.

Banyak hal yang saya pelajari dari ketika saya berbagi kebahagiaan dengan orang lain, banyak pula pengalaman hidupku ketika saya berbagi kebahagiaan dengan orang lain. dan di sekuel 1-36 adalah rangkuman kisah cerita pengalaman hidupku dalam berbagi kebahagiaan yang saya bagikan apa adanya, dari semua yang ada.

Sering sejak dari dulu hatiku berkata “berbagi kebahagiaanlah dengan orang ini.” kalau di hitung berpa kali saya berbagi kebahagiaan dengan orang lain, tak pernah terhitung, tapi setidaknya di cerita ini, inilah yang saya bagikan dari banyaknya pengalaman hidupku berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

 

Saya agak kurang yakin hari itu hari apa, tapi yang saya ingat jelas, hari itu adalah hari di mana saya pulang dari sekolah semasa saya masih kelas 2 SMP, saya bermain billiard dengan teman-teman sekolah saya waktu itu, dan masih memakai baju seragam sekolah, ketika beberapa teman saya mulai pulang ke rumah, saya masih saja tetap di sana, bernain sampai tidak terasa ada seorang perempuan yang usianya sekitar 5 tahunan di atasku, dia mengajak saya bermain billiard karena dia tidak ke bagian meja billiard waktu itu, dan kebetulan teman saya yang jadi latih tanding saya waktu itu sudah capek, singkat cerita, dari perempuan itu saya mengenal beberpa teman lesbiannya, saya mulai mengenal kehidupan kaum lesbian setidaknya di Surabaya, pola pikir nereka tidak lebih dari perempuan pada umumnya, walaupun mereka menyukai sesama jenis,dari merekalah saya mengenal istilah On the way, dari merekalah saya mengerti seperti apa memperlakukan perempuan dari berbagai macam watak dan karakter.

Merekalah yang mengajari saya mau melayani kalangan marginal dan kaum papah, dari yang terbuang untuk yang terbuang, dari yang termarginalkan untuk yang termarginalkan, tidak mudah tapi setidaknya di setiap banyak waktu luang saya dulu semasa remaja, saya gunakan untuk On the way bersama mereka, dari perkampungan-perkampungan yang di dekat tempat pembuangan sampah, sampai berpergian ke luar kota, dan mengenal beberapa komunitas, yang juga terjun pelayanan ke kaum papah seperti kami.

Di awal mula saya melayani bersama mereka adalah di Gang Bogowonto (brandgang) Surabaya, dulu itu adalah tempat kumuh jalur eksekusi (Lari) jika gedung PLN kebakaran, tapi seorang banyaknya orang dari pedesaan yang mencari rejeki pekerjaan di Surabaya, dan banyak “para buronan” yang bermukim di sana, karena justru di tempat itu mereka aman bersembunyi, walaupun tidak lama, di sana yang tinggal rata-rata adalah pemulung sampah juga pengamen jalanan, mereka semua perantauan dari luar Surabaya, dan sekitarnya. Bahakan ada yang dari sekitar Pujon juga pulau Madura, anehnya walaupun kumuh, tapi sebenarnya warga yang bermukim di sana tak sekumuh gang itu hanya karena pakaian mereka tidak semahal yang di gunakan orang kebanyakan saja, tidak serapi mereka yang kehidupannya lebih di atas mereka. walaupun pengamen jalanan yang “kata” orang kebanyakan penghasilannya lumayan, tapi tidak bagi warga di sana, karena mereka sering terkena razia juga tidak punya kipem, tempat tinggal mereka tidak terdaftar (ilegal) kartu penduduk mereka malah dari daerah tempat tinggal mereka aslinya, tidak ada ijin pasti mereka tinggal di daerah brandgang itu. Walaupun mereka sering ke razia dan di pulangkan, tapi tak lama pastilah mereka kembali lagi ke brandgang itu. Padahal di Surabaya penghasilan mereka per hari juga tak banyak karena sudah jadi incaran pihak berwajib jika mereka terlihat mengamen di jalanan kota Surabaya lagi.

Mungkin bagi kaum fanatik dan kaya raya, kalau berbagi kebahagiaan atau pelayanan ke kaum marginal atau kaum papah itu dengan cukup bagi sembako atau pakaian layak, padahal kalau di lihat kenyataannya, itu malah di jual lagi sama mereka, bukan karena butuh uang, tapi karena itu semua di nilai menghina mereka, mereka bukan gembel yang tak bisa berguna apapun, mereka hanya ingin seperti apapun mereka, jangan di anggap remeh, mereka tidak ingin mengotori Surabaya, mereka tidak ingin sebenarnya jadi sampah masyarakat yang selalu di cibir orang karena selalu saja mindset pengamen jalanan atau pemulung itu seperti manusia yang tak mampu berbuat banyak dalam hidupnya. Seperti warga di brandgang Bogowonto saat itu, mereka hanya ingin di ijinkan tinggal di sana dan di biarkan bekerja di Surabaya.

Karena itu dalam setiap pelayanan kami saat itu, kami datang mengetuk pintu-pintu di rumah warga di sana untuk hanya bertanya hal yang bodoh bagi banyak orang mungkin “Apakah Ibu atau Bapak bahagia hari ini?” jika tidak ikutlah dengan saya atau kita, ke tempat di mana kita bisa menjadi seperti yang Bapak Ibu inginkan, setidaknya itu bisa membuat kalian bahagia, bukan untuk saling merendahkan atau menjadi orang lain.

Waktu di awal kami pelayanan di sana, pertanyaan kami itu sering di tanyakan kembali oleh warga di sekitar situ, tapi setelah ada beberapa di antara mereka yang menuruti kemauan kami, mereka akhirnya mengerti, setidaknya bagaimana kami duduk makan bersama mereka, bagaimana kami ikut ngamen bersama mereka, bagaimana kami juga ikut minum satu gelas bersama mereka, besoknya masak bersama warga di sana dan kita makan bersama mereka untuk makan malam. Kalangan marginal atau kaum papah sebenarnya sama juga manusia seperti lainnya, bahagia itu tidak sulit untuk di ciptakan, membuat orang lain bahagia adalah cukup kita ada bersama mereka dan mengerti sebagaimana penderitaan mereka yang mereka alami, setelah itu barulah kita “merangkul mereka” untuk maju selangkah atau banyak dalam hidup mereka, membagikan ilmu pengalaman hidup atau pengetahuan ke mereka.

Setidaknya itulah awal mula saya On the way. Awal mula saya berbagi kebahagiaan dengan orang lain, kalau dalam hidup ini ada banyak waktu luang, maka setidaknya ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk kebajikan dan ketulusan, kalau ada orang bodoh yang bertanya, kenapa saya mau berbagi kebahagiaan dengan mereka yang termarginalkan atau tidak? jawaban saya sederhana, karena saya makhluk hidup, manusia Bumi, yang sampai detik ini terus belajar untuk mau terus mengerti tujuan hidup manusia. Melakukan apa yang harus saya lakukan, memanusiakan manusia dan biarlah itu menjadi urusanku dengan Tuhanku.

Bersambung.

(Anggo)

Pernak-pernik cinta dalam hidupku. Sekuel 10 (1-10)

Karena ada yang memisahkan, dari besarnya jarak, jadilah apa yang ada di hati tak pernah menjadi sebuah yang terangkaikan di mana ada saya dan kamu.

Inilah sekuel terakhir pernak-pernik cinta dalam hidupku. Di Sekuel yang terakhir ini, saya tak punya banyak kenangan yang ada, hanya pengorbanan untuk tidak menderita, membebaskan trauma menjadi kebahagiaan yang saya lakukan setiap hari bersama perempuan yang satu ini.

Banyak kalangan yang saat itu tak menyetujui saya dekat dengan perempuan yang satu ini, bukan karena dia sering tinggal di asrama, tapi karena alasan pengalaman hidup yang jauh beda antara saya dan dia, dia yang hanya katak dalam tempurung. Yang hanya meloncat untuk di batasi, sedangkan saya tidak pernah mau membatasi pengalaman hidup, tidak mau terkurung di sebuah atau dua sudut pandang.

Sebuah lagu dari BIP yang berjudul Sampai nanti, yang sering saya nyanyikan ketika saya dulu sadar akan kehilangan dia, karena kita berdua yang jarang bisa bertemu, Di kisah cinta saya yang terakhir ini, saya hanya memberikan yang jadi terburuk dalam hidup saya, baginya mungkin cinta itu adalah nafsu, bukan rasa untuk saling mengerti, saling mengenal dan sebagainya, yang terpening adalah apa yang dia ingin saat itu, saya harus ada untuknya, kalau tidak, jangan di tanya, berapa lama dia ngambek berhari-hari, bisa-bisa lebih dari satu minggu, tapi di saat saya ingin dia ada untuk saya, dia tak pernah ada, dan saya tak pernah protes ke dia.

Mungkin saat itu, dia lebih pantas dengan laki-laki yang bukan tipe yang suka bertanggung jawab, jadi hubungan seperti suami istri di anggap biasa, padahal dia bekerja di Gereja. Di sini saya tak pernah mau menceritakan awal mula saya bertemu dengan dia, karena tidak mau melukai perasaan laki-laki yang dia tinggalkan untuk dia bisa bersama saya. Perempuan ini adalah kesalahan di hidup saya, mengenalnya mungkin adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya, yang akhirnya membuat saya banyak kehilangan waktu bersama sahabat, waktu bersama keluarga dan pekerjaan. sampai makan pun saya jarang, biasa sehari 3-4 kali makan, saat bersama dia, saya paling sering makan sehari sekali atau dua kali. Cuma langsung makan banyak.

Bukan Sembarang hati, dari Band She, juga lagu dari Michael learns to rock yang berjudul Paint my love, dan lagu dari BIP yang berjudul Sampai nanti, adalah lagu dengan saya dengan dia. Dan kalaupun nanti saya mendapat jodoh, saya pasti tidak akan mau dengan tipe perempuan seperti mantan pacar saya yang terakhir ini.

Sekali lagi inilah sekuel terakhir, pernak-pernik cinta dalam hidupku, sampai bertemu di kelanjutannya note atau tulisan-tulisanku yang berjudul All About Love (Semua tentang cinta) Sekuel 1-16. tunggu saja. 🙂

 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia. 🙂

Namaste. 🙂

(Anggo)

Pernak-pernik cinta dalam hidupku. Sekuel 9 (1-10)

Adakalanya rasa sayang itu terkadang tak menjadi harapan untuk bersama, karena ada atau banyak kejadian-kejadian yang tak bisa di hindari, untuk menumbuhkan cinta di hati.

 

Anda pasti pernah beberapa kali tak mampu dalam mengutarakan perasaan sayang karena ada atau banyak kejadian-kejadian yang membuat pada akhirnya cinta itu tak bisa tumbuh di hati.

Mungkin anda pernah mengalami apa yang dulu juga saya rasakan ke beberapa perempuan, ketika rasa sayang itu mulai tumbuh tapi ada atau banyak kejadian yang akhirnya membuat cinta itu tak bisa tumbuh di hati.

Chapter 1.

Apa anda pernah tulus membuatkan seorang perempuan itu sebuah lagu untuk dia? dan ketika anda menyanyikan lagu itu, atau mendengarkan lagu itu, ternyata mampu membuat hujan tak mampu turun dari langit? dan itu hanya sekedar keajaiban tanpa mantra khusus. Saya pernah melakukan itu untuk seorang perempuan, dia sering menyukai suasana yang sejuk, tak suka hujan deras, karena takut banjir, hanya saja saat saya sudah membuatkan sebuah lagu itu, yang saya beri judul Untitled Song, dan saya nyanyikan beberapa kali untuk dia, cinta itu tak pernah terlukis di hati, karena dia telah ada pilihan laki-laki lain di hatinya sebelum saya mengutarakan itu semua, dia hanya berkata kepada saya, kalau dia tahu dan merasakan kalau saya menyayangi dia, tapi jauh di lubuk hatinya, dia berkata, cinta itu adalah pengobanan, dan terkadang pengorbanan itu tidak penting, ketika makna dari pengorbanan itu hilang dalam hentakan nada drum, dulu memang banyak perempuan yang suka sama saya karena saya pintar bermain drum dan menulis pengalaman hidup juga lirik lagu, termasuk puisi, tapi setelah kaki kiri saya cedera futsal dan kaki kanan saya juga tak pulih dari cedera futsal yang berkepanjangan, itulah yang membuat saya berhenti bermusik, walaupun kaki kiri saya pulih kembali setelah cedera futsal tapi kaki kanan saya ini tak mampu lagi bergerak cepat seperti dulu, jadi saya tidak bisa lagi bermain drum dalam tempo cepat. Dan perempuan ini adalah salah satu penggemar saya dalam bermusik dulu. (MS)

Chapter 2.

Masa SMP biasanya bagi para kaum remaja mengenal istilah cinta monyet, cinta yang asal sayang saja, tapi belum banyak mengerti arti sayang atau cinta yang sebenarnya.

Perempuan itu dulu teman saya semasa SMP, dia dan saya jarang sekali bisa bercanda, karena lebih sering terlihat bermusuhan walaupun hanya bercanda. Tapi dari situlah awal rasa ingin mengenal lebih dekat ke dia dan dia ke saya itu ada, ketika dia tidak masuk sekolah, saya merasa kehilangan, saya mulai untuk menelpon dia atau ke rumahnya ketika dia tidak masuk sekolah, begitu pun dia ke saya, tapi saya tak pernah menanyakan apakah dia juga merasa kehilangan seperti yang saya rasa. Saya tak pernah menanyakan apapun itu yang menjadi perasaan saya ke dia,karena dia sering bercerita ke saya kalau dia menyukai seorang laki-laki yang juga jadi teman kita waktu SMP dulu. Apalagi ketika beberapa hari setelah ujian akhir sekolah, saya mengalami kecelakaan, dan membuat saya tak bisa bertemu dengan dia saat itu. Cinta itu baru terkuak,ketika saya membuat akun facebook dan ada pertemanan juga dengan dia, dari situlah kita tahu kalau sebenarnya dari dulu, kita saling menyayangi, tapi saat kita mengertiitu, semua telah terlambat,karena saya dan dia sudah mempunyai kekasih, lagu dari Gigi yang berjudul My facebook, setidaknya menceritakan sedikit banyak kisah kita, karena ketika saya mendengarkan lagu itulah, awal mula saya dan dia ada pertemanan di facebook setelah sekian lama tak pernah bertemu dan mengetahui kalau dulu kita ternyata saling menyayangi. (NTO)

Chapter 3.

Perempuan ini terkadang menghantui siang hari saya, kadang muncul di ingatan saya ketika saya dan dia bertemu di sebuah ajang festival musik di Surabaya, Perempuan dari keturunan suku Batak ini, datang berlibur ke Surabaya, menyaksikan saya dan band saya tampil, dia tahu bandsaya dari komunitas indie musik di kotanya, apalagi dia dulu pernah kerja di Jakarta dan sering berlibur di Bandung, dan entah apa yang akhirnya membuat dia rela datang ke Surabaya hanya untuk melihat band saya pentas. Ketika saya turun dari panggung, selesai bermusik di panggung bersama teman-teman band saya, dia menghampiri saya, dan hanya berkata Mas, main drumnya jeren banget tadi, sekarang saya bisa bertemu sama kamu,tidak hanya dengan mendengarkan lagu-lagu dari band kamu juga menyukai cara kamu bermain drum.

Setelah itu dia banyak bercerita dan saya hanya sedikit saja, dialah fans saya yang tulus masih mau mengidolakan saya walaupun pada akhirnya saya tidak mau bermain drum lagi karena cedera di kaki kananku, anehnya di saat itu, saat kita hanya 16 jam bertemu dan bercanda, saya dan dia sudah bisa akrab dalam sekejap saja, sebuah lagu dari Padi yang berjudul Harmoni, menjadi lagu kenangan kita berdua, lagu yang kalau saya dengar itu, rasanya ingin saya sering bertemu dengan dia, seperti terlahir dalam sehelai kertas putih dan tertulis dengan tinta pesan damai. Itulah yang membuat kita bisa terasa dekat dalam sekejap saja, prinsip humanisme yang sering kita asah dalam tiap pengalaman hidup, menjadi jembatan yang bisa membuat kita akrab. Cinta memang tak mengenal jarak, walaupun beratus-ratus kilometer, terasa hanya berjarak satu kilometer, cinta itu terkadang membuat kita tak membuat dinding pemisah antara jarak dan waktu, hanya saja cinta itu harus bersatu di jarak yang terdekat, mengenal langsung butuh waktu untuk sering bertemu langsung tidak lewat media atau perantara apapun itu. Itulah yang akhirnya membuat kita tidak bisa bersama, walaupun saling mengutarakan rasa sayang itu. (CT)

Chapter 4.

Pernahkah anda belajar tentang cinta ketika masih kecil? saya sudah melakukan itu ketika bersahabat dengan seorang teman perempuan saya waktu kecil, dia keturunan Belanda (Blasteran Indonesia) Tapi kita waktu itu memng tak mengetahui apa-apa,namanya juga masih SD, baru ketika saya dan dia pindah rumah,kita sering tidak bertemu, hanya di SD atau Sekolah Dasar saja, dan ketika saya masuk SMP, saya hanya bertemu dengan dia waktu saya kelas 3 dan dia kelas 1, ketika itu pun dia sering menghindar dari saya, sampai saya harus sering mengejar dia kalau ketemu sama dia, karena dia tak pernah mau menyapa saya kalau kita bertemu, sampai akhirnya dia memberitahu saya kenapa dia tidak mau menyapa saya.

Aku hanya tidak mau teman-teman perempuan Mas Anggo yang sering ngobrol sama Mas Anggo kalau pulang sekolah itu merasa di cuekin dengan adanya aku, adakalanya aku bisa melihat Mas Anggo bercanda dengan mereka, itu sudah cukup membuatku bahagia, seperti waktu aku berjuang mencari tahu Mas Anggo masuk SMP mana.

Ada saatnya memang ketika kita sayang dengan seseorang, kita mengalah pada teman terdekat atau sahabat, memberikan waktu untuk orang yang kita sayangi itu bersama sahabat atau orang terdekatnya, walaupun pada akhirnya itu membuat jarak dan kita hanya bisa melihat orang yang kita sayangi itu bahagia dari kejauhan. Dan tak mampu berbuat banyak, Seorang perempuan ini sangat menyukai semua lagu dari Red Hot Chili Papers, terutama My Friends dan Scar Tissue. Dan dia sempat memberikan saya sebuah kenangan hand bandage, atau gelang tangan yang biasa di pakai drumer juga skater. (HL)

Chapter 5.

Dulu awal saya bertemu dengan dia adalah ketika saya bekerja sebagai Cleaning Service di sebuah Coffee shop di Surabaya, awalnya memang saya dan dia biasa saja, hanya saja hati saya bergetar ketika saya beberapa kali mendengar dia menelpon ke rumahnya untuk ngobrol dengan anaknya, tidak tahu kenapa ada banyak empati dari diri saya untuk memperhatikannya tanpa dia tidak ketahui, karena dia telah punya suami tapi dalam masalah perceraian. Ketika saya tidak bisa banyak lagi memperhatikan dia tanpa dia sadari, karena saya jadi relifer dan harus keliling area klien yang menjalin kerjasama dengan outsourcing tempat saya kerja, sebuah lagu dari 3 doors down, yang berjudul Here without you, saya dengarkan tidak sengaja di radio waktu saya pulang dari coffee shop tempat dia kerja itu, dan setelah itu saya tak pernah lagi bertemu dengan dia,lagipula dia sudah punya suami dan dia di pindah tugaskan di Jakarta.

Saya akhirnya bisa bertemu dengan dia lagi lewat facebook, tapi dia tak pernah merespon ketika saya message dia di inbox atau apapun itu, kecuali terakhir saat saya ucapkan Selamat Ulang tahun untuk dia, dan taklama setelah itu akun facebooknya saya hapus dari pertemanan saya. Ada sebuah kisah yang pernah membuat saya trauma, adalah berawal ketika saya kembali bekerja di outsourcing tempat saya kerja dulu, saya mendengar kabar kalau dia sudah kembali di pindahkan kerja di Surabaya, tapi parahnya ketika saya kembali mencoba berkomunikasi dengan dia, walaupun hanya untuk mengenal dia dekat saja tetap susah meskipun saya dengar dia sudah bercerai dengan suaminya, dan parahnya ternyata ada seorang laki-laki yang jadi partner kerjanya juga menyukai dia, dan semuanya kacau karena lagu pun jadi ajang taruhan, dia memilih saya atau laki-laki yang jadi partner kerjanya itu. Awalnya saya tidak tahu kalau ada taruhan seperti itu. Dan hanya kebetulan saja ketika saya ingin mendengarkan beberapa lagu waktu itu dan saya bagikan di facebook, sama dengan yang di jadikan taruhan, dan akhirnya saya tahu dari adik ari-ari saya beberapa bulan setelah kejadian itu, kalau ada taruhan lagu-lagu itu,ketika dia bingung memilih siapa? dan ketika saya bertanya dengan teman-teman saya yang bekerja di operator seluller, mereka pun akhirnya memberitahukan kepada saya, kalau memang pernah saya di jadikan taruhan untuk cinta dengan cara tebak lagu.

Jujur dulu itu sempat menjadikan trauma yang membekas bagi saya, akhirnya sampai saya melakukan hipnotherapy untuk membuat trauma itu menjadi kebahagiaan, dan cepat menghilangkan segala emosinya dengan sugesti yang membangun diri lebih baik lagi untuk bisa lebih lagi bahagia atau enjoy dalam menikmati dan menjalani kehidupan ke depannya. Hipnotis bukanlah membuat orang amnesia atau schizofrenia juga hilang ingatan, tapi hipnotis adalah membebaskan kenangan buruk (trauma) atau bahagia yang membelenggu diri, agar mampu menjalani hidup lebih bahagia atau enjoy untuk ke depannya, ada juga hipnotis bisa dengan memberikan sugesti agar ketika mau mengingat sesuatu yang bisa berakibat buruk bagi diri dan banyak orang, tapi itu belum terjadi, tiba-tiba itu semua hilang atau tak teringat lagi. Sedangkan sugesti adalah perasaan untuk ingin kembali mengulangi lagi sebuah kejadian kalau sudah pernah terjadi, atau dengan menolak keinginan karena tidak ingin suatu hal itu terjadi ketika itu belum pernah terjadi, karena hanya mendengar seseorang bercerita kepada kita (menolak perasaan untuk agar diri mau mengulang kembali bila itu sudah terjadi, atau tidak sama sekali bila itu belum terjadi).

Cinta itu bukanlah ajang taruhan, dan ada lagu yang membuat saya teringat dia, yaitu sebuah lagu dari 3 doors down yang berjudul Here without you, sebuah lagu dari Chrisye yang berjudul Seperti yang kau minta, sebuah lagu juga dari Peter Pan yang berjudul menghapus jejakmu dan Sebuah lagu dari Nidji yang berjudul Kau dan aku. (YW)

 

(Anggo)

 

Pernak-pernik cinta dalam hidupku. Sekuel 8 (1-10).

Cantik itu bukan dari apa yang terlihat, seperti paras atau dari luar nampak dalam kilau seperti apa, cantik itu bisa terpancar dalam kebisuan, yang hanya bisa di artikan dengan tulisan, inilah kisah cinta saya pertama dengan seorang perempuan yang berhijab.

 

Dulu setiap hari sebelum masuk kerja, saya biasa jogging di sekitar pusat kota Surabaya, ada sebuah taman yang tak begitu besar di dekat Tunjungan plaza Surabaya. Di sanalah juga jadi saksi bisu saya bertemu dan mengenal seorang perempuan yang bisu sejak dari lahir.

 

Dulu pamannya adalah penjual bubur ayam dan sari kedelai atau sari dele di sekitar situ. Dia biasa membantu Pamannya berjualan, hampir setiappagi saya bertemu dengan dia saat itu, karena saya selalu membeli bubur ayam dan minuman sari kedelai di warung Pamannya., sebenarnya sih itu bukan seperti warung, tapi hanya pedagang keliling yang biasa mangkal di sekitar situ di pagi hari dari 05.00 sampai jam 09.00 waktu itu.

Dari sering bertemunya saya dengan dia itulah awal mula saya bisa dekat dengan dia,walaupun agak susah berkomunikasi, sehingga pada akhirnya waktuitu, saya harus belajar bahasa isyarat, agar bisa berkomunikasi dengan dia, untungnya pula saya ada kenalan teman yang menguasai bahasa isyarat dari seringnya dulu saya pelayanan di SLB.

Singkat cerita, dia banyak memberikan saya semangat ketika saya jogging di pagi hari, dia sering menulis di kertas karton, berbagai macam kalimat yang mampu membuat saya tersenyum, ada-ada saja yang dia tulis, yang biasa dia tulis saat itu adalah, Semangat cinta dalam hangatnya susu kedelai.

Dan dialah yang pertama kali mengutarakan perasaan cintanya ke saya, yang dia tulis dalam kertas karton, awalnya saya hanya menganggap itu hal yang biasa, karena dia biasa menulis di kertas karton untukk dan menunjukkannya ketika saya jogging, dan dia berdiri di trotoar sambil memperlihatkan tulisan di kertas karton itu.

Saya baru tersadar ketika saya membacanya berulang kali setiap hari, dia tak pernah merubah tulisannya, Cinta itu ada di hangatnya susu kedelai, di situ ada kamu dan aku.

Ketika saya mengerti kalau dia mengutarakan cintanya ke saya, saya tak berpikir lama dan langsung menerimanya saat itu, karena saya juga mencintai dia.

Banyak memang hal yang dulunya jadi tak bisa terlupakan bersamanya saat dia pergi meninggalkan saya untuk selamanya tanpa ada kata perpisahan, seperti yang terlantun dalam lagu The Morning after yang berjudul Quatro yang menjadi salah satu lagu kenangan saya dengan dia, saya dan dia yang saat itu baru merasakan indahnya rasa sayang dalam pengenalan lebih dekat antara saya dengan dia yang baru berpacaran selama 8 bulan, Cinta itu persahabatan, cinta itu mau mengenal, mau menerima, mau mengerti dan saling untuk tidak mengekang, membiarkan cinta itu merubah perlahan,melebur dalam kasih, cinta yang tak dapat untuk terus melukai, dalam mengenal lebih dekat, karena cinta itu bukan proses ulat yang menjadi kupu-kupu. Mengenal adalah personal bukan lewat orang lain atau perantara.

Saya banyak belajar untuk mengenal dia langsung tapi dengan cara yang beda, biasanya orang mengenalitu lewat berbicara langsung dengan cara bertemu langsung, tapi karena dia bisu sejak dari lahir, maka hal yang banyak menjadi penghubung dalam pembicaraan kami saat bertemu langsung adalah bahasa isyarat, yang terkadang itu membuat dia minder. Saat saya mengajak dia berpergian seperti ke mall atau ke tempat lain.

Hal yang menyakitkan saat itu bagi saya ketika dia pamit ke saya untuk pulang Lumajang, untuk menemui kedua orang tuanya yang pulang dari Malaysia. Dia pamit ke saya hanya seminggu, sampai akhirnya di saat dia mengabari saya kalau mau kembali ke Surabaya. Saya menunggu dia di sebuah terminal kereta api di Surabaya. Tapi sampai malam pun dia tak kunjung datang, sampai saya tidur di stasiun kereta itu untukmenunggunya, tapi dia tak kunjung hadir memunculkan batang hidungnya. Barulah saya terdiam dan membuang semua kerinduan saya setelah mendengar kabar kalau dia telah meninggal dunia karena kecelakaan.

Ada kejadian yang kadang tersirat dalam ingatan saya,yaitu saat dia selalu membuatkan susu kedelai untuk saya, ada semangat yang takpernah saya rasa di saat itu, ada kebahagiaan, ada rasa yang tak terukur oleh logika, perasaan sayang yang terpendam dan hanya di salurkan di hangatnya susu kedelai, seperti pelangi yang terlukis di langit tanpa ada hujan. Itu yang biasa dia sebut dalam cinta dalam hangatnya susu kedelai.

Ada juga yang terkadang membuat saya teringat dia, yaitu pagi hari, ketika saya bangun tidur dan mulai menyapa mentari, adakalanya saya berdoa untuknya terkadang, semoga dia bahagia, dan apapun itu cinta kita berdua berakhir tanpa ada kata perpisahan, hanyalah usia yang terbatas untuk menuturkan kembali cinta dalam hangatnya susu kedelai.

2 lagu yang menjadi kenagan kita berdua adalah sebuah lagu dari The morning after yang berjudul Quatro, dan sebuah lagu dari Pure Saturday yang berjudul Kosong.

(Anggo)

Pernak-pernik cinta dalam hidupku. Sekuel 7 (1-10)

Pernak-pernik cinta dalam hidupku, adalah perjalanan cinta saya dalam mengenal arti cinta dan pengorbanannya.

 

Dia selalu berteriak seakan memberi semangat kepada saya, dia selalu duduk di bangku belakang, tepat di gawang.

Perempuan yang satu ini memang cenderung agak unik dari sekian mantan pacar saya, dia yang bisa menerima kemampuan indera ke enam, adik ari-ari saya dan leluhur saya juga “punggawa-punggawa” saya lainnya. saya adalah pria yang di ikuti adik ari-ari saya juga leluhur saya sejak dari kecil sampai sekarang, kemampuan indigo juga terawangan sudah saya punyai sejak dari lahir.  Jarang saya cerita ke banyak orang tentang kemampuan saya ini dan siapa “punggawa-punggawa” saya yang selalu melindungi saya di “faktor X” atau alam gaib. Adanya mereka inilah yang membuat saya lebuh banyak diam untuk mengerti, tapi berontak ketika harga diri saya di injak-injak dan kebahagiaan juga ketenangan hidup saya di rebut atau di usik. Pernahkah anda bertarung roh di dunia astral? saya sering mengalami itu. Dan perempuan inilah yang pernah mengajari saya cara untuk tidur, karena saya penderita gejala insomnia, karena dulu setiap kali tidur, saya selalu “perjalanan astral” jadi roh saya meninggalkan tubuh saya, dan agar tubuh saya tidak di ganggu roh halus yang jahat, tubuh saya bergantian di jaga oleh adik ari-ari saya atau leluhur saya.

 

Awal mula kita bertemu adalah di sebuah lapangan indoor soccer, dia banyak menonton saya latih tanding ataupun latihan biasa, entah dia tahu dari mana saat itu tentang keberadaan saya, hanya saja teriakan dia ketika gawang saya kebobolan juga ketika saya melakukan penyelamatan, menghalau bola agar tidak masuk. Pernah saya jengkel, karena teriakannya yang mengusik saya ketika latih tanding sebelum ikut sebuah turnamen, karena saya 3 kali gagal menghalau tendangan pinalti. Saya hampiri dia dan melempar bola ke arah wajahnya. Dia langsung diam melihat saya memperlakukan dia seperti itu.

 

Ketika latih tanding selesai dan saya pulang, dia duduk di belakang sepeda motor saya, wajahnya yang memerah karena terkena lemparan bola saya, terlihat jelas saat itu, dia menyanyikan beberapa lagu “oldiest” seperti Bethoven, Bryan Adams, Air Suplay juga Peter Cetera, saya memperhatikan dia, tak jauh dari situ, sampai dia sadar kalau saya diam memperhatikan dia.

“Ini motormu khan?  bisa antarkan aku pulang? kalau tidak mau aku yang memaksa, karena aku ngerti, kamu pasti mau?” nada suaranya yang seperti yakin tapi masih ada keraguan itu, sekan berkata pada relung hati saya.

“Ya, saya mau, cuma sepertinya kita punya kesamaan di satu hal, saya tahu kamu ada yang “menuntun” ada bayangan perempuan cantik di belakangmu, aku juga di ikuti adik ari-ariku sejak lahir, instingmu kuat ya? terima kasih sudah sering berteriak memberi semangat dan memaki saya ketika saya main indoor soccer. ” kata saya pada dia.

Di situlah awal perkenalan saya dan dia, yang ternyata rumahnya tidak jauh dari rumahku, dari awal perkenalan sampai detik terakhir kita bertemu, ada banyak hal yang saya pelajari dia, seperti tidak menggunakan kekuatan indera ke enam saya secara 100% secara berlanjut, tapi lebih banyak menyimpan agar bisa terus berkembang sampai titik tertinggi, tidak sering menggunakannya setiap hari, karena di situlah kemampuan itu tidak bisa berkembang pesat secara cepat, dia perempuan yang lebih banyak diam, karena ketika saya bertanya ke dia, kenapa dia diam, dia selalu menjawab “ya, karena kamu pasti sudah tahu apa yang mau aku bicarakan sama persis seperti yang aku mau bicarakan, sekarang kamu tebak saja, aku ada masalah apa di kerjaan dan apa yang terjadi di rumahku.”

Setiap kali saya mendengar jawaban dia seperti itu, saya kembali terdiam, karena pasti dia tidak mau lagi bicara pada saya, talenta kita inilah yang adakalanya membuat kita berdua terisi kebisuan, yang adakalanya kita lebih berpikir untuk bagaimana mengasah untuk menghentikan sementara saat kita bicara pada orang lain atau dia bicara ke saya atau saya bicara ke dia, agar apaun yang terjadi kita lebih baik tidak melihat “beberapa” menit ke depan, karena jika itu terjadi, maka yang pastinya orang lain akan sedikit banyak takut pada kita, jujur atau tidaknya orang, kita pasti sudah tahu, tapi apapun itu kita berusaha menjaga rahasianya. Tanpa orang itu harus bicara ke kita.

 

Dialah perempuan yang bisa membuat saya tidur, walaupun awalnya susah, tapi dia dulu selalu bilang pada saya, apa yang menjadi hobimu, itulah yang bisa membuat kamu tidur, akhirnya saya mencoba satu persatu tapi gagal, sampai saya ingat, ketika saya dulu semasa kecil hendak tidur, almarhum Mamaku selalu menyanyikan lagu, atau bercerita apapun itu juga mengajak bercanda. Akhirnya mendengarkan lagu adalah hal yang bisa membuat saya tidur, terutama dengan menggunakan walkman atau  dengan ponsel yang menggunkan head set, hal yang saya ingat ketika walkman saya dulu rusak itulah hari terakhir saya tidur waktu kecil, walaupun saat itu tidur saya tidak senyenyak saat saya tidur dengan mendengarkan lagu lewat ponsel dengan menggunakan headset.

Hal bahagia yang pernah terjadi dalam kisah cinta saya dan dia adalah, di awal saya mengungkap rasa cinta saya adalah dengan kembali melemparkan bola ke wajahnya, dan saat itu saya bilang ke dia dengan berteriak keras “I love you” tapi anehnya dia kembali melempar bola itu ke arah saya dan berkata sambil berteriak keras juga “I love you too.”

Setiap kali mau tidur, kita selalu telpon untuk bergantian menyanyikan lagu untuk setidaknya lagu pengantar kita untuk tidur. Tapi karena kurangnya komunikasi walaupun kita sering bertemu, itulah memang yang membuat hubungan kita tidak nyaman, dan saat saya tahu ada seorang laki-laki yang bisa membuat dia nyaman, membuat dia lebih bisa terbuka dalam komunikasi, itulah yang membuat saya dan dia memang harus berpisah, saya memilih untuk mengalah, melihat dia lebih bahagia dengan seorang pria lainnya. Sebelum saya dan dia berpisah, ada sebuah lagu yang saya nyanyikan untuk dia, yaitu lagu dari Collective Soul yang berjudul Run, ketika saya selesai menyanyikan lagu itu, saya cepat tutup telpon saya dan tidak pernah menemui dia lagi. Pesan terakhir saya untuk dia hanya saya bukan lari tapi saya melihat kebahagiaan, seperti yang lagu ini ceritakan, berlari karena melihat orang yang di cintainya bahagia.”

Lagu-lagu kenangan kami berdua adalah, sebuah lagu Collective Soul yang berjudul Run, juga Boomerang yang berjudul seumur hidupku, Peter Cetera yang berjudul I wanna take forever tonight, dan Oasis yang don’t go away.

 

Terakhir saya bertemu dengan dia adalah di hari pernikahannya, saat itu saya sempat bertanya dalam hati, “dengan apa saya bisa menghapus air mata yang menetes di relung hati?” apalagi saat saya melihat dia terkejut atau kaget melihat kedatangan saya, belum sempat saya ucapkan selamat menempuh hidup baru kepada dia dan suaminya, dia sudah bertanya kepada saya, “kemana saja kamu selama ini?”

Saya hanya tersenyum dan berkata kalau bola telah terlempar, maka siapapun yang menangkapnya, ataupun membiarkannya begitu saja pasti kelak akan berlari untuk melihat orang yang dia lemparkan bola itu ke wajahnya, untuk membuatnya ataupun melihatnya bahagia. Apapun itu saya ternyata hanya bisa memandangmu dari jauh karena saya tahu, bukan saya pria yang bisa membuatmu bahagia.

Setelah itu saya mengucapkan selamat berbahagia kepada dia dan suaminya, setelah saya pergi meninggalkan tempat resepsi pernikahannya, saya belajar dari mantan pacar saya yang ke-5 ini, saya belajar ternyata mencintai orang yang mempunyai indera ke enam itu tidak mudah tapi bukan hal yang mustahil, dulu saya berharap kalau kelak saya punya kekasih atau pasangan hidup yang mempunyai indera ke enam, tapi kehadiran perempuan ini, dalam hidup saya membuat saya banyak belajar, kalau apapun yang terjadi tentang cinta bukanlah talentanya, tapi karena hati nurani yang bicara, jangan mencintai perempuan ataupun orang yang kita cintai karena punya talenta yang sama. Karena belum tentu dengan talenta yang sama itu bisa membuat cinta itu berwarna indah.

 

(Anggo)

 

 

Pernak-pernik cinta dalam hidupku, sekuel 6 (1-10)

“Love hurt you sometimes…..”

Pernak-pernik cinta dalam hiduku adalah kisah perjalanan cinta saya dalam mengenal arti cinta akan pengorbanannya dsb.

 

Masih teringat dalam memori saya, ketika saya mengikuti Misa di sebuah Gereja di Surabaya, saya memang terbiasa dulu, ketika mengikuti Misa berpindah Gereja, karena Misa di Agama Katolik, semua ibadahnya aturannya dan kotbahnya sama, dari Vatikan sampai pelosok Bumi.

 

Ketika itu saat Misa telah selesai, dan saya baru pertama kali datang ikut Misa di Gereja itu, saya memutuskan untuk tidak pulang, tapi mengelilingi Gereja itu dulu. Sampai tibanya saya di samping Gereja itu, ada sebuah gedung yang lebih kecil daripada ukuran Gereja, terdengar suara organ dan perempuan yang sedang menyanyikan sebuah lagu dari Aerosmith yang berjudul I don’t wanna miss a thing.

“I don’t wanna close my eyes, I don’t wanna fall asleep, cause I miss you babe, and I don’t wanna miss a thing, cause even when i dream of you, the sweetest dreams will never do, i’m still miss you babe, and i don’t wanna miss a thing….”

Saya menunggu dia sampai selesai menyanyikan sebuah lagu dari Aerosmith itu, setelah itu saya menghampiri dia dan berkata “Suaramu bagus, senang Juventus ya, kok pakai kaos tim Juventus, kalau ya, saya juga seorang Juventini.”

Dia terdiam sejenak, kacamatanya dia lepas, dan hanya menjawab “ya” setelah itu dia hanya tersenyum dan mengajak saya bernyanyi, karena sepertinya saat itu dia tahu kalau saya suka lagu dari Aerosmith, yang berjudul I don’t wanna miss a thing. Sebuah lagu itulah yang mengantarkan perkenalan saya dengan dia, dan Juventus adalah tim yang banyak membuat kita berdua “bisa bersatu” saat itu. Sampai tiba sekitar 3 bulan dari awal perkenalan kita, saya kembali datang ikut Misa di Gerejanya, kebetulan di hari Minggu itu, dia yang bertugas mengiringi Misa dengan Organ, sebelum dia masuk ke dalam Gereja, saya menghampiri organ yang akan dia pakai untuk mengiringi Misa, saya taruh di atas organ itu, seekor kura-kura yang di badannya saya ikatkan sebuah balon berbentuk hati. Lalu saya tinggalkan begitu saja dan duduk di bangku agak belakang sendiri, setibanya dia di depan organ itu, dia mengangkat kura-kura itu dan membaca surat saya, setelah Misa selesai, dan ketika saya beranjak mau pergi meninggalkan Gereja itu, dia tiba-tiba memainkan organ itu kembali dan menyanyikan sebuah lagu dari Aerosmith yang berjudul I don’t wanna miss a think. Setelah lagu itu selesai dia nyanyikan, dia menghampiri saya di bangku tempat saya duduk, dan duduk di sebelah saya.

“Love hurt you sometimes, not so easy to find, searching everywhere, you turn and swear, always been there…”

“Jawabannya ada di lagu itu, semua mungkin tidak mudah di lewati, tapi andai tidak ada Juventus, mungkin kita tidak akan mudah saling mengenal, cinta itu tidak mudah di cari, tapi suatu hari nanti pasti di temukan, saat kita telah terjaga dari semua yang telah berlalu, dan sekrang cinta itu ada di sebelahku.” itu jawaban dia untuk saya.

Sekitar satu setengah tahun saya dan dia bersama, walaupun seperti apapun perbedaan yang terjadi, tapi ada banyak hal yang saya tak pernah lupakan, apalagi dia bekerja sebagai dokter hewan dan pelayanannya di garis kanan, sedangkan saya waktu itu masih bekerja relawan di sebuah komunitas yang di sokong dana puluhan milyar rupiah, pelayanan kami di garis kiri, sampai ke pelosok Indonesia, menjangkau cicit atau cucu mantan PKI, dan para kaum papah yang “tak terjamah” pemerintah, mereka yang di asingkan dan yang terasingkan, atau termarginalkan.

Salah satu hal yang tak pernah saya lupa dari dia adalah, setiap kali main ke rumahnya, orang tua saya selalu mencibir saya, “pelayananmu itu garis kiri, Marxisme, adil sama rata, tidak cocok di Indonesia, di Indonesia memang pluralisme, tapi kesenjangan masih jadi hal yang lumrah, di mana si kaya menang terus dengan si miskin atau yang sederhana, penindasan, di pandang sebelah mata, ataupun jarang ada keadilan yang setara, di mana semua manusia adalah saudara, lah bangun tempat Ibadah saja masih ribut, apalagi mengentaskan buta huruf, dan angka kemiskinan, mending kamu tidak pelayanan di garis kiri lagi, main aman.”

 

Itulah salah satu kenapa akhirnya saya dan dia tidak bisa bersama dia saat itu, kurang dukungan dari orang tuanya, dan saya tahu hal yang harus saya lakukan.

Di hari yang sama, ketika saya dan dia, berdua untuk pertama kalinya menonton tim kesayangan kami Jventus, di sebuah cafe di Surabaya, saya datang ke Gereja menemui dia, mengikuti Misa yang kebetulan saat itu dia kembali yang mengiringi Misa dengan organ.

 

Saya datangi dia, dia saat hendak Misa berakhir, saya bawa sebuah surat yang saya ikatkan pada sebuah kalung berbentuk hati, saya taruh di depan dia, di atas organ yang dia mainkan, kemudian saya tinggalkan begitu saja.

Lama saya tak bertemu dengannya sejak kejadian itu, sampai beberapa bulan sebelum pernikahannya, dia datangi saya di tempat kerja saya, dia bawakan saya kue tart, karena saat itu adalah hari ulang tahun saya yang ke 30 tahun, di gerimis hujan, di atas mobilnya kita makan kue tart itu. Dan kembali sejak saat itu sampai sekarang saya belum pernah mau lagi menemui dia.

Buat cinta ke-4 saya, saya banyak belajar kalau memang cinta itu tidak perlu di cari atau susah untuk di cari, tapi suatu hari nanti, cinta itu bisa di temukan tepat di sebelah saya. Terima kasih, semoga kamu bahagia dengan suamimu, apapun itu “Love hurt you sometimes….”

 

(Anggo)

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Namaste.